Baca Juga : Kades Purwodadi Mekar Salurkan DD Tahap I Dan II Untuk Pembangunan Infrastruktur Dan BLT
Lampung Timur, KompasLampung.Com - Pihak SMA N 1 Batanghari, Lampung Timur akhirnya membantah tudingan miring mengenai kualitas pembangunan dua gedung ruang kelas baru (RKB) dan ruang gedung laboratorium IPA yang sempat diberitakan lewat media online dan youtube 18 Juni yang lalu.
Hal itu diungkapkan oleh Purwanto selaku ketua pelaksana pembangunan gedung ruang kelas baru dan laboratorium IPA SMA N 1 Batanghari kepada KompasLampung.Com, Minggu (28/06/2020).
Menurutnya kedua bangunan tersebut yang belanjanya menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler dari satuan kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung pada tahun anggaran 2019 itu tidak ada temuan masalah dan sudah sesuai dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB).
“Dana yang kita terima untuk RKB dan Lab itu sesuai dengan apa yang dianggarkan oleh Pemerintah, yang RKB sejumlah Rp 374.400.000 sedangkan gedung Lab IPA sejumlah Rp 295.370.000 masing-masing kami terima 3 tahap dan kami laksanakan sesuai dengan petunjuk teknis, dan mengikuti aturan yang disampaikan oleh konsultan dan pendamping, dan selesai sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan,” jelas Purwanto.
“Setelah selesai dan diperiksa kembali, kami sudah menerima Berita Acara Penyerahan Barang/Jasa dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung kepada SMA N 1 Batanghari dengan Nomor : 421/33214/V.01/DP.2/2019.RKB 18 dan Nomor : 421/33714/V.01/DP.2/2019.LAB 8,” lanjutnya.


Mengenai kelayakan bangunan dan keabsahan item pekerjaan saat pekerjaan selesai, Riyandi Saputra, ST selaku fasilitator dan konsultan pembangunan gedung RKB dan Lab IPA di SMA N1 Batanghari melalui saluran telpon mengatakan, “Itu sudah ada surat-menyuratnya, sudah kita dicek ulang, sudah kita periksa kembali, dari detail pekerjaan sudah sesuai dengan RAB, item-item tidak ada yang hilang dan sudah terpasang semua, dari segi mutu juga memuaskan”.



“Kalau dari segi kerusakan seperti yang diberitakan retak, dinding retak selagi tidak membahayakan para siswa, karena untuk retak dinding untuk dibidang bangunan itu umum, selagi tidak patah karena kalau sudah patah itu fatal, berarti ada bermasalah di bagian bangunan bawah seperti pondasi atau sloop nya. Tapi kalau hanya retak rambut atau pecah, itu kan faktor alami, dan ini bisa ditemukan hampir disetiap rumah ada dinding yang retak,” jelas Riyandi.

Lanjutnya, “Saat pekerjaan selesai saya memang menemukan ada bagian dinding yang retak, tapi bagi kita tidak jadi masalah dan tetap masih bisa berjalan. Dari data keilmuan kita bahwa retak itu bukan jadi masalah pekerjaan itu untuk diberhentikan atau tidak diabsahkan. Jadi bagi kita bangunan itu layak dan bisa digunakan.”
“Saya sebagai fasilitator, memfasilitasi pihak sekolah jika ada keluhan atau kebingungan dalam proses pembangunan bisa tanyakan pada kita. Kitapun ikut mengawasi, kita cek per hari itu itemnya sesuai semua dan kualitas bangunan sangat layak. Kitapun ada dokumentasinya semua, dari mulai pembangunan sampai selesai ada semua,” tutupnya. (Red)




















