Dilema Antara Kembali Belajar Tatap Muka Dan Kepentingan Kesehatan

Senin, 11 Jan 2021 | 21:04:16 WIB, Dilihat 128 Kali

Oleh Redaksi Kompas Lampung

Share on Facebook Share on Twitter

Dilema Antara Kembali Belajar Tatap Muka Dan Kepentingan Kesehatan

Baca Juga : Badan Akreditasi Negara Lakukan Penilaian Tingkat Sekolah Dasar


Metro, KompasLampung.Com - Pandemi yang diakibatkan oleh Virus Covid-19 telah membekukan dunia, termasuk Indonesia. Pasalnya dengan keberadaan virus tersebut banyak sektor yang lumpuh atau tidak berjalan dengan optimal bahkan mati karena dampak penyebaran virus tersebut yang berlangsung sangat cepat.

Salah satu sektor yang terkena dampak dengan keberadaan Covid-19 adalah sektor pendidikan. Pendidikan menjadi terhambat dikarenakan proses pembelajaran yang awalnya dilakukan secara bertatap muka, kini harus dilakukan secara virtual/daring. Proses pembelajaran tersebut dilakukan di rumah masing-masing dengan metode cara mengajar yang dikembalikan dan diserahkan kepada setiap tenaga pendidik.

Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi tingkat penyerapan ilmu yang akan diserap oleh murid. Bukan hanya itu saja, keterbatasan murid dalam bertanya terhadap materi yang disampaikan menjadi kendala juga dengan adanya metode pembelajaran yang dilakukan secara daring. Kemudian, dari sisi teknologi kita menyadari bahwa tidak semua guru dan murid yang tersebar di seluruh Indonesia melek akan teknologi, baik itu dari aplikasi yang akan digunakan untuk metode pembelajaran dan juga alat komunikasi yang digunakan. Keterbatasan kepemilikan akses juga menjadi sebuah kendala pelaksanaan pembelajaran secara daring. Kesulitan-kesulitan tersebut merupakan hasil dari budaya pendidikan Indonesia yang biasanya mengharuskan adanya tatap muka antara siswa dan juga guru, kemudian secara tiba-tiba harus dilakukan tanpa bertatap muka.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem telah menghendaki sekolah boleh dilaksanakan secara tatap muka/luring namun dengan catatan bahwa sekolah harus memenuhi beberapa syarat. Dalam pernyataan Nadiem Makariem yang disampaikan melalui akun YouTube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyatakan bahwa, setiap daerah dan juga sekolah harus mulai mempersiapkan dan meningkatkan kesiapanya untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara tatap muka/luring.

Kebijakan untuk pembukaan sekolah secara tatap muka merupakan hasil keputusan bersama yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan juga Menteri Dalam Negeri yang tertuang di dalam panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun 2020/2021 di masa pandemi Covid-19. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah pembelajaran secara tatap muka di masa pandemic Covid-19 ini tidak bersifat wajib, namun jika daerah dan sekolah ingin melakukannya diperbolehkan.

Panduan penyelenggaraan proses pembelajaran bertatap muka seharusnya menjadi pertimbangan untuk setiap daerah apakah akan terus mempertahankan kegiatan pembelajaran secara jarak jauh/daring atau memilih unuk mempersiapkan pembelajaran secara tatap muka/luring. Hal tersebut tentunya menjadi harapan sekolah-sekolah yang berada di Provinsi Lampung untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara tatap muka. Dalam hal ini, lembaga penjamin mutu pendidikan dirasa perlu melakukan riset terhadap kondisi pembelajaran di Provinsi Lampung guna dapat menentukan dan memutuskan apakah sekolah-sekolah yang berada di Provinsi Lampung tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran secara virtual/daring atau mulai dapat mempersiapkan proses pembelajaran secara tatap muka.

Mengingat adanya sebuah keterbatasan baik itu dalam mengakses teknologi, menentukan metode pembelajaran yang tepat, ataupun hasil yang ingin dicapai. Bukan hanya itu saja, penerapan protokol kesehatan juga dapat menjadi solusi jika proses pembelajaran secara tatap muka dilaksanakan. Dilema antara memulai kembali pelaksanaan pendidikan berjalan kembali normal dengan mendahulukan keselamatan menjadi pebincangan yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Di satu sisi pendidikan yang terus dilakukan secara daring atau virtual menyebabkan kualitas pendidikan yang dihasilkan juga mengalami penurunan (disebabkan banyak faktor). Namun, di lain sisi kesehatan setiap individu juga menjadi pertimbangan jika dilakukannya proses pembelajaran bertatap muka di tengah pandemi Virus Covid-19.

Mengacu pada protokol kesehatan dan juga arahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memperbolehkan daerah dan sekolah memulai kembali sekolah secara normal, sehingga tidak ada salahnya jika sekolah secara luring mulai dicoba untuk dilakukan kembali. Jika memang kegiatan belajar mengajar pada masa new normal dapat dilakukan secara bertatap muka tentunya perlu dilakukan riset dan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Penerapan kegiatan belajar mengajar secara normal dapat dimulai dengan melakukan pembatasan terhadap siswa dan tenaga pendidik yang masuk ke sekolah. Penerapan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, meggunakan masker, pengecekan suhu tubuh sebelum meamasuki zona sekolah, dan mencuci tangan juga wajib diterapkan.

Sekolah sebagai instansi pendidikan juga wajib menyediakan fasilitas yang memadai, contohnya penyediaan tempat untuk siswa dan tenaga pendidik cuci tangan dan juga menyediakan fasilitas pengecekan suhu tubuh secara otomatis. Bukan merupakan suatu ketidak mustahilan jika ingin memulai kembali pelaksanaan kegiaan belajar mengajar secara langsung dan bertatap muka. Namun, hal tersebut tentunya harus diimbangi dengan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan yang ketat.

Sudah menjadi harapan bersama keadaan yang serba terbatas di masa pandemi ini dapat berkurang dan dapat menjadi lebih baik. Karena pada hakikatnya untuk sektor pendidikan sendiri, budaya pendidikan Indonesia selama ini adalah melakukan pembelajaran secara tatap muka, melakukan proses pembelajaran dengan saling bertemu antara guru dan murid. Serta kita juga menyadari bahwa kegiatan pembelajaran melalui jarak jauh/daring menimbulkan banyak permasalahan. Jangankan secara jarak jauh, proses pembelajaran secara langsung di Indonesia pun belum dapat dikatakan tidak menimbulkan permasalahan.

Oleh karena itu, perlu adanya sinergisitas antara para pihak baik di tingkat Pusat, Daerah, Organ Sekolah, Murid, serta Orang Tua/Wali untuk menentukan pilihan terbaiknya dalam melaksanakan proses pembelajaran pendidikan di Indonesia. Sinergitas tersebut merupakan salah satu langkah terbaik, untuk menentukan apa yang baik untuk pendidikan di Indonesia namun tetap memperhatikan keadaan pandemi Covid-19 ini. Bukan hanya mengandalkan Pemerintah Pusat atau Daerah, atau bahkan menyerahkan langsung kebijakan kepada setiap sekolah, namun perlu adanya kerjasama yang baik antara para pihak untuk mendapatkan hasil yang terbaik demi pendidikan di Indonesia di masa pandemi ini. (Red)



Badan Akreditasi Negara Lakukan Penilaian Tingkat Sekolah Dasar
  • Badan Akreditasi Negara Lakukan Penilaian Tingkat Sekolah Dasar

    Sabtu, | 13:11:37 | 166 Kali


  • SMAN 6 Metro Sukses Menggelar Pemilihan Pengurus OSIS TP 2020/2021
  • SMAN 6 Metro Sukses Menggelar Pemilihan Pengurus OSIS TP 2020/2021

    Senin, | 21:56:58 | 532 Kali


  • 86,3% Siswa SMAN3 Metro Lulusan 2020 Diterima Di Perguruan Tinggi Favorit
  • 86,3% Siswa SMAN3 Metro Lulusan 2020 Diterima Di Perguruan Tinggi Favorit

    Rabu, | 21:59:37 | 1208 Kali


  • Kepalsuan Data Proses PPDB SMAN 1 Metro Menurut Tokoh Pendidikan Masyarakat
  • Kepalsuan Data Proses PPDB SMAN 1 Metro Menurut Tokoh Pendidikan Masyarakat

    Minggu, | 14:36:25 | 568 Kali


  • Adanya Kepentingan Orang Penting, DPRD Metro Minta Persoalan Domisili Segera Diselesaikan
  • Adanya Kepentingan Orang Penting, DPRD Metro Minta Persoalan Domisili Segera Diselesaikan

    Rabu, | 14:20:03 | 865 Kali