Baca Juga : UNBK Meningkatkan Kejujuran Siswa dan Mengukur Pencapaian Kompetensi
Oleh Ujang Wahyudin
Kompas Lampung - Bicara tentang dunia pendidikan saat ini, masih banyak siswa yang hanya sekedar menempuh pendidikan untuk memenuhi wajib belajar 12 tahun (dulu 9 tahun). Peninjauan dilakukan pada beberapa yayasan sekolah baik negeri atau swasta umum maupun swasta beryayasan keagamaan.
Hal ini jelas, menurunkan niat siswa dalam menjalani dan melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih atas sesuai niat dan potensi siswa. Ada beberapa siswa, juga mengatakan bahwa untuk menempuh sekolah itu mahal biayanya.
Sedangkan beberapa siswa juga mengatakan, jikalau sang guru mengajar asal-asalan, tidak up to date ilmu pengetahuan, tidak dibekali ilmu pelatihan dan pendidikan keguruan. Ya memang masalah pendidikan sangatlah kompleks, dan bisa dikategorikan menjadi point yang perlu ditinjau kembali, meliputi:
1.Visi dan misi sekolah
Visi dan misi sekolah sudah sangat jelas dipamerkan dalam bingkai ruangan kepala sekolah tetapi tidak ditinjau kembali berapa prosentase keberhasilan dalam kriteria hasil dari visi dan misinya setiap tahun.
Apakah sekolah tidak ingin meningkatkan taraf mutu pendidikan yang layak? Apakah sekolah hanya ingin membantu pemerintah sekedar meluluskan siswa dari ancaman buta huruf dan tulis? Tidak adakah keinginan sekolah bangga terhadap prestasi sang murid setelah lulus dari sekolahnya?
Mungkinkah beberapa sekolah mengeluhkan susah cari anggaran dana untuk mengembangkan sekolah? Carilah pihak yang dapat diajak kerjasama, tidak hanya secara materiil tetapi secara ilmu, pemateri juga sudah bermanfaat dan sebagai hasil ada timbal balik sang murid (berprestasi atau tidak dapat bekerja diinstansinya baik parttime atau fulltime).
2.Tim profesionalisme pengajar
Sebagai tim profesionalisme pengajar maka seharusnya sudah wajib profesional. Seseorang pengajar yang biasa disebut bapak/ibu guru merupakan kunci awal dan utama dari keberhasilan siswanya.
Zaman dahulu banyak cerita mengatakan bahwa bapak/ibu guru sangat kejam, memukuli siswa dengan penggaris kayu, menendang siswa. Itu lebih baik dan terhormat dibanding bapak/ibu guru yang menghina dan melecehkan siswanya pada zaman sekarang.
Banyak freshgraduateingin berkecimpung didunia pendidikan yang dengan bangga menyebutkan motivasi sebagai guru untuk memajukan kualitas pendidikan diinstansi yang dipilih, termotivasi dari sanak keluarga bahkan sang guru yang pernah mengajarnya.
Itu adalah awal permulaannya tetapi lama-kelamaan kata “ya sudah maksimal, apa adanya lah” yang akan keluar dari hati setelah menjadi guru. Guru memiliki keterbatasan fisik, emosional, dan sosial.Keterbatasan fisik muncul disaat usianya hampir akan pensiun, sekolah tetap menginginkan dirinya mengajar. Hal ini wajar karena kembali lagi pada motivasi awal ingin menjadi guru.
Keterbatasan emosionalsangat sering terjadi disaat siswa malas belajar, bermain mulu dan terutama nakal. Beraneka ragam karakter siswa akan ditemui akan tetapi seringlah beradaptasi dengan mereka karena mereka adalah siswa, adalah seorang anak yang tentunya butuh perhatian, butuh teman dan bahkan butuh rincian alternatif solusi bukan sekedar ceramah dan omelan.
Sedangkan keterbatasan sosial ini berlaku saat masuk dalam lingkungan baru dengan nuansa daerah yang terlalu kental tentu akan melatih guru bersosialisasi dengan adat istiadat siswanya.
3.Kurikulum
Siswa merupakan seorang anak yang berada dalam tahapan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Menurutnya, kurikulum adalah, semua kegiatan yang dalam kegiatan-kegiatan tersebut para siswa terlibat secara aktif dalam aturan sekolah.
Meliputi apa yang dipelajari siswa, bagaimana mereka belajarnya, bagaimana guru membantu mereka dalam belajar, materi apa yang digunakan, dengan menggunakan gaya dan metode penilaian yang bagaimana serta fasilitas apa yang digunakan untuk mendukung berjalannya semua kegiatan tersebut.
"Apabila digabungkan kedua poin antara kurikulum dan siswa maka didapatkan pengertian suatu rangkaian pembelajaran dan pengajaran aktif berdasarkan aturan mengenai materi, penilaian interaksi guru – siswa, gaya dan metode pengajaran serta fasilitas penunjang siswa belajar sesuai tahapan perkembangan anak dengan usianya.
4.Fasilitas Penunjang (Sarana dan Prasarana).
Terkait sarana dan prasarana penting menunjang proses belajar-mengajar, tetapi tidak begitu dibutuhkan selama sarana dan prasarana yang belum ada dapat dikoping dengan yang telah ada. Bila mengikuti era globalisasi, maka tidak akan ada habisnya perkembangan pesat dalam waktu singkat dan tentunya butuh budget yang cukup besar.
"Sebagai solusi, jikalau sarana dan prasarana tidak dapat terkompensasi secara up to date, maka kualitas dari SDM yang perlu ditingkatkan untuk menciptakan sarana dan prasarana bagi sekolahnya atau setidaknya menyumbangkan prestasi luar biasa agar dapat sumbangan sarana dan prasarana baik secara potongan harga maupun no fee.
Terlalu melengkapi sarana dan prasarana, sesuai zaman tidak akan membuat siswa termotivasi menciptakan sesuatu hal yang dapat bermanfaat bagi sekolahnya.
5.Identitas Unik, Berbobot dan Bermanfaat
Jati diri sekolah dapat dilihat dari visi dan misi sekolahnya, tetapi identitas sekolah sebaiknya diatur sedemikian rupa. Sehingga sebuah pencitraan akan lama dikenang. Identitas ini, juga tentunya dapat berupa standar berpakaian, perilaku, kegiatan ekstrakulikuler, dan dominansi proses pengembangan siswa agar keterampilannya terasah maksimal. (*)


Ujang Wahyudin staff Redaksi Kompas Lampung 

















