Baca Juga : Bupati Lampung Timur Hadiri Acara Penilaian Akreditasi RSUD Sukadana
Jakarta, KompasLampung.Com - Dengan ditemukannya kasus 131 anak yang menderita gangguan ginjal akut (acute kidney injury) misterius harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati dalam keterangan tertulis yang diterima media jaringan KompasLampung.Com mengatakan, dirinya mendorong pemerintah melibatkan BPOM dalam satuan tugas antara bersama Kemenkes, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam mengatasi hal tersebut.
Berkaca dari kasus sama yang terjadi di Gambia, menurut WHO disebabkan oleh obat-obatan anak, maka BPOM perlu memastikan semua peredaran obat anak yang beredar di Indonesia.
"Terkait dengan keterlibatan BPOM, Gugus Tugas perlu melibatkan dan mendorong BPOM untuk melakukan pemeriksaan kembali atas kandungan obat untuk anak yang diduga menjadi pemicu gagal ginjal akut pada anak termasuk obat-obatan anak yang dijual bebas," tulis Kurniasih Mufidayati.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI ini menyebutkan, meski Indonesia penyebabnya masih misteri, pelibatan semua stakeholder bisa dilakukan semua sektor.
"Termasuk dari sisi penelitian perlu, untuk melihat lebih pasti apa penyebabnya, komunikasi dengan WHO dan belajar dari kejadian di Gambia yang sudah lebih dulu memiliki kasus juga bisa dilakukan, setelah tata laksana diterbitkan Kemenkes semua stakeholder harus bersiap diri," ungkap Kurniasih.
Kepada orang tua, Kurniasih Mufidayati berpesan agar selalu berkonsultasi dengan dokter dan tenaga kesehatan dalam memberikan obat-obatan untuk anak- anak. Apalagi kini ada layanan pembelian obat secara daring.
"Waspada dengan langkah konsumsi obat-obatan untuk anak-anak, sebisa mungkin dengan anjuran dokter atau tenaga kesehatan. Membeli obat secara daring juga ada tata caranya yang sudah dijabarkan oleh BPOM. Periksa kembali agar semuanya aman," sebut Kurniasih.
Kurniasih Mufidayati juga meminta agar Kemenkes dan gugus tugas selalu memberikan perkembangan baik dari penelitian yang dilakukan di Indonesia maupun hasil koordinasi dengan WHO melihat ada kemiripan dengan yang terjadi di Gimbia.
"Masyarakat khususnya orang tua pasti ingin mengetahui selain penyebab juga tindakan pencegahan yang bisa dilakukan serta langkah-langkah jika ternyata memiliki gejala yang mirip dengan kasus gagal ginjal akut. Publik harus sesegera mungkin paham soal ini dan siap untuk melakukan mitigasi secara mandiri," tutupnya. (KN)




















