Baca Juga : Gantikan Lili Pintalui, Johanis Tanak Resmi Pimpin Komisi Pemberantasan Korupsi
Lampung Selatan, KompasLampung.Com - Melalui pesan WhatsApp, seorang oknum guru di pondok pesantren Darussalam lampung diduga lecehkan siswinya yang duduk di bangku kelas IX Tsanawiyah.
Berawal sejak diketahui oleh wali murid dari pelajar sebut saja Mawar, bahwa pada Handphone adiknya kedapatan chat yang dinilai tak pantas antara guru dan muridnya, M. Barok warga Kecamatan Natar Lampung Selatan merasakan seperti terkena sambaran petir, bagaimana tidak, Mawar yang baru berusia 14 tahun itu mendapatkan chat dari seorang ustad berinisial RL belakangan diketahui duda berumur 49 tahun telah menyatakan cinta kepada Mawar melalui WhatsApp pada tempat tak lazim dilakukan sebagai tenaga didik di pondok pesantren yang notabene berbasis pendidikan agama.
M. Barok sebagai wali murid yang tak terima adiknya dilecehkan melalui chating itu menuturkan jika dirinya sempat dimediasi oleh pihak Yayasan Ponpes Darussalam guna selesaikan dugaan pelecehan, namun hal yang tak disangka justru pihak ponpes memberi solusi untuk memindahkan santri bernama Mawar ke sekolah lain dan tetap mempertahan oknum ustad, dengan dalih karena pelaku sanggup mengajar dengan bayaran murah.
Keputusan yang ditentukan pihak Ponpes Darusalam Lampung pada mediasi tersebut ternyata sangat bertentangan dengan tujuan awal meminta mediasi sesuai harapan wali murid, M. Barok menginkan adiknya tetap bersekolah dan oknum guru dapat ditindak tegas agar dikeluarkan, mengingat prilaku buruk tersebut akan terulang pada puluhan bahkan ratusan Mawar-Mawar lainya, tetapi oknum guru tersebut justru dipertahan atas dasar belum ada korban, sedangkan sebagai wali murid, juga mewakili orang tua dari 27 santri pada kelas IX Tsanawiyah hal ini diminta, agar sebagai antisipasi pihak ponpes sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti maraknya pemberitaan saat ini, di beberapa ponpes, santrinya menerima perlakuan cabul dari gurunya.
Sedangkan Mawar yang diduga telah diarahkan oleh ustad RL, saat ditemui awak media mengatakan, pada awalnya merasa biasa saja di chat oleh oknum ustad tersebut, namun setelah sampai pada waktu, RL mengatar bakso ke kediaman Mawar anak usia 14 tahun ini, Santri ini barulah sadar setelah diberi penjelasan oleh kakaknya terpaut usia lelaki setengah abad yang diduga ada niat tertentu saat mengartikan dari chat yang terkirim via WhatsApp tersebut, kedapatan bapak setengah baya cinta pada anak-anak.
Setelah disadarkan dengan diberi penjelasan oleh kakak yang telah mengurus Mawar sejak usia 5 tahun ini, akhirnya Mawar justru takut dan tak berani ke sekolah, hingga akhirnya dipindahkan pondok pesantren lainnya, namun M. Barok kembali dibuat kecewa, karena pihak ponpes Darussalam Lampung terkesan mempersulit admisnitrasi saat mengurus pindah Mawar, juga tanpa rasa bersalah atau rasa kemanusiaan pihak Darussalam sama sekali tak meringankan beban biaya, padahal insiden ini terjadi karena ulah oknum ustad tenaga didik dan bukanlah santri yang mencintai guru. Namun sebaliknya yang menjadi musabab pindahnya salah satu santri guna hindari bahaya yang bakal terjadi.
Dituturkan Mawar jika benar dirinya mendapat chat melalui pesan WhatsApp dari ustad guru bahasa inggris nya yang menanyakan berbagai hal pribadi dan tak pantas dilakukan oleh guru usia 49 tahun kepada santri, dan setelah tahu niat ustadnya itu Mawar mengaku takut untuk sekolah di ponpes Darussalam.
Diungkapkan M. Barok yang sangat resah dan kecewa atas ulah oknum ustad pada keluarga itu, hanyalah semata-mata guna mencegah sedini mungkin prilaku buruk hal tak lazim dilakukan seorang guru kepada santri, juga menjaga marwah nama baik Ponpes Darussalam Lampung agar bisa lebih baik lagi kedepan, dengan dasar itulah orang tua wali murid ini bersikekeh meminta pada pihak pondok, ustad guru bernama RL ini segera dihentikan keluar dari pesantren Darussalam.
Awak media yang sempat mengkonfirmasi terkait peristiwa yang dialami Mawar pada pihak Ponpes Darussalam Lampung yang beralamat di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan telah meminta penjelasan pada Muhajid dan Gofur sebagai guru senior mewakili ketua pondok saat diwawancarai berkilah dan tetap mempertahankan guru yang di duga akan merusak santri dengan sikap tak lazim itu, dan pihak pondok terkesan lepas tangan.
"Itu urusan pribadi antara murid dan guru bukan tanggung jawab pihak sekolah," jelasnya
Terkait orang tua walimurid yang meminta pihak sekolah memberhentikan ustad RL agar tidak lagi mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Lampung, Muhajid dan Ghofur sebagai guru senior, baru akan menyampaikan bahwa hal ini menunggu keputusan dari pimpinan.
Sebagai orang tua wali murid atas peristiwa yang di alami keluarganya ini, sangat kecewa terhadap tanggapan pihak ponpes yang dinilai tak sesuai ekspektasi, karena pihak Darussalam Lampung tetap tak mau mengeluarkan guru yang dinilai punya rencana tak baik pada santrinya melalui pesan WhatsApp itu, akhirnya pada Jumat pagi (30/09/2022), kemarin walimurid ini mengadukan halnya pada Pemerintah Desa Banjar Negeri, dan ditanggapi oleh Seketaris Desa setempat.
Feriyansyah sangat menyayangkan kejadian ini, dan Sekdes memberi apresiasi pada M. Barok yang peduli pada anak bangsa meski keluarganya sudah dipindahsekolahkan demi menjaga nama baik sekolah dan keluarga.
"Atas hal ini kita segera akan menindak lanjuti sebab jangan sampai terjadi kedua kali di wilayah desa kami hal tak senonoh ini terulang setelah sebelum nya di Ponpes Darul Ma'arif dan kini di Ponpes Darussalam," jelas Sekdes. (Rozy/tree)




















