Baca Juga : Dewan Pendidikan Kota Metro Angkat Bicara Terkait Polemik PPDB
Kota Metro, KompasLampung.Com - Pembahasan Polemik PPBD yang terjadi di Kota Metro, terkhusus SMAN 1 Metro seakan tidak ada habisnya, mulai dari manipulasi data domisili, manipulasi data jarak serta program tiap jalur yang disinyalir tebang pilih.
Saat tim dari media KompasLampung.Com menemukan fakta di lapangan terkait manipulasi data dari situs web lampung.siap.ppdb.com salah satu siswa yang terpilih dengan nomor peserta 02001100569 menunjukkan data alamat siswa berada di Kelurahan Yosodadi dan jarak 387 meter dengan jalur zonasi.
Namun saat kami konfirmasi ke pihak sekolah asal, salah satu guru menerangkan bahwa anak tersebut tinggal di Lampung Timur tepatnya di Kecamatan Pekalongan.
"Nomer peserta tersebut memang lulusan SMP kami, setahu saya dan data di sekolah dia tinggal di Pekalongan, orang tuanya bekerja sebagai anggota Polri," kata Waka Kesiswaan yang tidak ingin disebutkan namanya, Selasa (30/6/2020).
Data serupa juga terdapat di nomor peserta 02001102436 yang masuk jalur zonasi dengan data domisili di Kelurahan Yosodadi dengan jarak 542 meter, namun faktanya pihak sekolah asal menerangkan bahwa siswa tersebut tinggal di Kelurahan Tejosari.

Sedangkan ironisnya warga sekitar yang memiliki hak, malah tersingkir padahal memiliki beberapa kriteria jalur yang seharusnya dapat masuk ke sekolah tersebut.
Menurut data yang dilansir media harianmomentum.com, Muhammad Pebriansyah (15) warga RT/RW 021/09 Kelurahan Yosodadi, Kecamatan Metro Timur, harus gagal melanjutkan jenjang pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Kota Metro.
Penyebabnya, pada data informasi PPDB di sekolah setempat, tertera jarak zonasi antara SMA Negeri 1 Kota Metro dan tempat tinggal Muhammad Pebriansyah sekitar 1135 meter. Padahal faktanya, jarak rumah Muhammad Pebriansyah dengan SMAN 1 Kota Metro hanya sekitar 500 meter saja.
"Saya berharap bisa sekolah di SMAN 1 Kota Metro karena jaraknya dekat dengan rumah. Bisa jalan kaki dan tidak butuh kendaraan. Kalu saya sekolah di tempat lain lokasinya jauh. Saya tidak punya kendaraan sepeda apalagi motor. Makanya bingung bagaimana nanti saya sekolah kalau jauh," kata Pebriansyah.
Dia mengaku, kondisi perekonomian keluarganya serba kekurangan. Jangankan untuk membeli sepeda, untuk makan sehari-hari pun terkadang mengalami kesulitan.
"Ada sepeda, tapi dipakai bapak kerja. Bapak kerjanya hanya buruh, kadang kerjanya juga jauh," ungkapnya.
Dia menyesal, tidak mendaftar melalui jalur prestasi. Sejak SD hingga SMP, Pebriansyah banyak meraih prestasi di berbagai ajang lomba Hafiz (penghapal) Al-Quran. Bahkan, dia pernah mengharumkan nama Kota Metro saat menjadi juara lomba Hafiz Al-Quran tingkat Provinsi Lampung.
"Waktu daftar di SMA Negeri 1 kemarin lewat zonasi, karena rumah dekat dengan sekolah dan masuk dalam kategori zonasi. Tapi malah tidak diterima. Kalau tahu begitu, daftar lewat jalur prestasi saja," sesalnya.
Jaidi Hartono (60) ayah dari Muhammad Pebriansyah berharap, pihak terkait memberikan kebijakan agar anaknya bisa mengenyam pendidikan di SMAN 1 Kota Metro.
"Saya ini hanya buruh bangunan. Kadang kerja kadang nganggur. Penghasilanya tidak menentu. Kalau anak saya bisa sekolah di situ kan, bisa meringankan biaya karena nggak butuh ongkos. Cukup jalan kaki saja," kata Jaidi.
Sangat disayangkan Kota Metro sebagi kota pendidikan harus tercoreng, pada proses PPDB yang carut marut disetiap tahunnya, terkhusus SMA N 1 Metro yang malah banyak oknum mengutamakan kepentingan pribadi, hingga mengorbankan masyarakat sekitar. (Abid)




















